Skip to Content

Mengenal suku Chambri “Manusia Buaya” di Papua

Mengenal suku Chambri “Manusia Buaya” di Papua

Be First!
by November 25, 2017 Berita

Yoncare.com |Merauke, Tradisi dan budaya Papua Barat yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan Papua Nugini, yang menempati Tanah Papua atau Irian boleh dikatakan sama.

Setelah beberapa tulisan mengulas perihal Papua Barat, tanpa bermaksud keluar dari pakem Nusantara, kini kita mencoba menyentil sedikit Papua Nugini yang merupakan sebuah negara yang terletak di bagian timur Pulau Papua dan berbatasan darat dengan Provinsi Papua (Indonesia) di sebelah barat. Benua Australia di sebelah selatan dan negara-negara Oseania berbatasan di sebelah selatan, timur, dan utara.

Papua Nugini adalah salah satu negara yang paling bhinneka di Bumi, dengan lebih dari 850 bahasa lokal asli dan sekurang-kurangnya sama banyaknya dengan komunitas-komunitas kecil yang dimiliki, dengan populasi yang tidak lebih dari 6 juta jiwa. Itu sama dengan Papua Barat yang memiliki banyak sekali suku dan bahasa.

Seperti di Papua Barat, Papua Nugini memiliki banyak keunikan seperti di Papua Barat. Ada satu suku yang unik Di Papua Nugini ada Suku Chambri yang unik dan dijuluki traveler sebagai Manusia Buaya. Kulit mereka disayat membentuk sisik buaya, untuk menandakan kedewasaan dan penghormatan pada buaya yang dipercaya sebagai leluhurnya.

Sama seperti suku-suku di Papua (karena masih satu daratan), Papua Nugini memiliki banyak suku dengan tradisi yang aneh nan unik. Beberapa tradisinya mungkin terlihat menyakitkan, tapi tidak bagi mereka yang melakukannya turun temurun.

Suku Chambri hidup sehari-hari sebagai pemburu binatang seperti babi dan juga memancing ikan bagi yang pria, serta berkebun bagi yang perempuan. Kehidupan mereka masih sangat sederhana, listrik saja belum masuk ke pemukimannya.

Lalu, apa tradisi khas Suku Chambri? Tradisi khas sukunya dilakukan hanya oleh para pria. Tradisi berupa menyayat badan dan membentuk kulit di badannya menjadi mirip sisik buaya yang menonjol-nonjol, sebagai ekspresi “manusia jadi buaya”!

Baca juga  Viral video badai hujan angin di banjarnegara

Ceritanya begini, di sekitar tempat tinggal Suku Chambri di Danau Chambri dan Sungai Sepik masih banyak buaya yang hidup. Ada dua jenisnya, buaya Papua Nugini dan buaya muara. Ukurannya besar-besar, dari 4 sampai 7 meter!

Bagi Suku Chambri, buaya merupakan hewan yang sangat diagungkan. Sebab mereka percaya, leluhur mereka dulunya adalah buaya yang semacam berevolusi ke daratan dan berubah menjadi manusia. Mereka juga menjaga kehidupan buaya dan tidak memburunya.

Tradisi menyayat badan dan membentuk kulit di badan menjadi mirip sisik buaya, sudah dilakukan sejak zaman dulu. Tradisi ini merupakan suatu tanda seorang pria menjadi dewasa. Biasanya dilakukan dari mulai 11 tahun hingga 25 tahun.

Yang menyayatnya, adalah kepala suku. Mereka yang disayat pun harus menahan rasa sakit, kala pisau mencabik-cabik kulit mereka. Kabarnya, tak sedikit juga ada yang meninggal karena kehabisan darah dan tidak tahan dengan rasa sakitnya.

Menyayatnya bukan sembarang menyayat. Yang menyayat kulit mereka dan membentuk pola kulit buaya tersebut haruslah kepala suku mereka. Tentu saja ritual ini sangat menyakitkan, darah segar akan mengalir deras sebagai hasil dari cabikan pisau di kulit mereka.

Konon katanya, saking menyakitkannya tradisi ini, tidak jarang banyak anak laki-laki dari suku ini yang sampai kehabisan darah hingga akhirnya meninggal dunia. Sedangkan teriakan kesakitan sudah dianggap hal yang wajar selama penyayatan berlangsung.

Melakukan ritual ini pun tak sembarangan, ada beberapa ritual khusus yang harus dilakukan si anak laki-laki sebelum menjalani proses menyakitkan ini. Setelah siap, ritual tari-tarian dan mantra khusus dibacakan, hingga akhirnya sang kepala suku mengambil pisau dan mulai menyayat kulit. Tradisi ini dianggap luhur dan suci.

Baca juga  Identitas dan kronologi korban tanah longsor di desa karangkembang Alian,Kebumen

Arti dari tradisi ini ada tiga. Pertama, sebagai wujud penghormatan kepada leluhur Suku Chambri yang dipercaya adalah buaya. Kedua, tradisi ini menandakan kedewasaan seorang pria. Ketiga, tradisi ini dipercaya akan membuat para pria menjadi orang yang kuat karena mampu melewati rasa sakitnya.

Seluruh pria Suku Chambri memiliki bekas sayatan dan terlihat seperti sisik buaya. Mereka juga dengan bangga, memamerkan bekas sayatannya. Asyiknya, Suku Chambri sudah terbuka dan terbiasa dengan kedatangan turis.

Suku Chambri sendiri sehari-hari, seperti sudah disinggung di atas, hidup sebagai pemburu, dengan sumber buruan utama mereka adalah, babi hutan dan ikan. Sedangkan bagi wanita, keseharian mereka adalah berkebun, dan mengumpulkan makanan yang bisa mereka dapatkan dari pedalaman Papua Nugini.

Bagaimana Anda menilainya? Nah, buat Anda yang penasaran ingin melihat bagaimana ritual ini dilakukan, datanglah ke Danau Chambri, yang merupakan rumah dari Suku Chambri. Jangan khawatir, mereka baik dan terbuka dengan pendatang! Mereka bukan suku kanibal seperti suku-suku asli di pedalaman Papua Barat dan Papua Nugini sendiri yang masih primitif.

Sumber: Netralnews

Baca Lainya

Baca juga  Registrasi kartu SIM seluler tidak perlu nama ibu kandung.
Previous
Next

Tinggalkan Balasan