Skip to Content

Keberhasilan memperbaiki keturunan dan taraf kehidupan

Keberhasilan memperbaiki keturunan dan taraf kehidupan

Be First!
by Juli 23, 2017 Kisah inspirasi

Hidup menjadi lebih baik bukan karena kebetulan. Hidup menjadi lebih baik karena kemauan untuk melakukan perubahan.

Sewaktu saya berkuliah dulu, ada sebuah istilah baru yang saya dengar di kalangan teman-teman dan membuat saya tersenyum geli. Istilah itu adalah “‘memperbaiki keturunan”.

Teman saya, seorang mahasiswa, sedang berusaha mendekati seorang mahasiswi. Teman pria saya ini kebetulan memiliki perawakan yang agak pendek dan tubuhnya agak tambun, walaupun wajahnya tidak bisa dibilang jelek. Karena tampilan jasmaninya ini, teman-teman yang lain suka ‘meledek’ usahanya dalam mendekati mahasiswi cantik idamannya. Kata teman-teman, “Wah, nggak salah nih kamu naksir tuh cewek. Kalau kalian jalan bersama, nggak takut dibilang ‘angka 10’?” Ledekan ini keluar karena si cewek cantik yang ditaksir teman saya ini posturnya tinggi dan langsing.

Menjawab ledekan ini, teman saya dengan santai mengatakan, “Nah … justru aku memilih dia dengan tujuan memperbaiki keturunan. Anakku ntar biar jadi lebih tinggi dari aku!”.

Teman saya ini tidak salah jika berkeinginan memperbaiki keturunan, walau entah Ia serius atau tidak. Bahkan, seharusnya setiap orang memiliki keinginan untuk memperbaiki keturunan. Perbaikan yang diinginkan itu, yang terutama, tentunya harus lebih dari sekadar perbaikan dari segi jasmani; namun harus lebih dalam dari itu.

Ada sebuah kisah sejati yang bisa kita teladani mengenai hal ini:

Setiap sore, ada seorang tukang bakso yang lewat di depan rumah saya. Tukang bakso ini penampilannya beda dengan tukang-tukang bakso lain yang biasa saya lihat. Walaupun ‘cuma’ berjualan bakso keliling, si bapak ini selalu berpakaian rapi: kemeja lengan panjang yang dimasukkan dengan rapi ke dalam celana panjang dan bersepatu kets serta berkaus kaki. Orangnya ramah dan piawai dalam melayani pembelinya dengan mengajak mereka bercakap-cakap ringan.

Baca juga  Cinta dan kejujuran

Tentu saja, si bapak tukang bakso ini menarik perhatian saya. Pada suatu ketika, saya membeli baksonya dan mengajaknya mengobrol. Saya bertanya berapa anaknya dan hal-hal lain seputar keluarganya. Ternyata Ia memiliki dua orang putri yang disekolahkannya tinggi-tinggi sampai pada tingkat sarjana; bahkan salah satunya ingin melanjutkan masuk ke fakultas kedokteran setelah selesai berkuliah di akademi perawat. Ia bahkan sanggup membelikan mobil bagi masing-masing putrinya.

Cerita tentang ‘keberhasilan’ pak tukang bakso itu bukan merupakan cerita isapan jempol atau hasil rekayasanya, karena setiap beberapa saat ketika saya mengajukan pertanyaan-pertanyaan lagi maka cerita pak tukang bakso itu konsisten dan runut bersambung seperti yang seharusnya.

Selain berhasil memperbaiki keturunan, pak tukang bakso ini juga berhasil memperbaiki nasibnya sendiri juga. Di samping sanggup menyekolahkan anak-anaknya dan mencukupi kebutuhan anak-anaknya setiap hari, Ia juga kini berhasil memperbaiki rumahnya hingga bertingkat tiga. Tidak hanya itu, di lantai paling atas, Ia menempatkan satu set peralatan untuk berkaraoke. Ia bercerita kepada saya bahwa lantai tiga adalah tempatnya bersantai. Ia mengatakan bahwa sebagai seorang lelaki, Ia tidak pernah menghibur diri dengan ‘3M’: madon, main, madat (bermain perempuan, bermain judi, bermain narkoba/rokok). Oleh karena itu, Ia berpesan kepada istrinya bahwa jika Ia sedang berada di lantai tiga, Ia tak mau diganggu. Lantai tiga adalah tempatnya menghibur diri dengan berkaraoke.

Pertanyaannya, bagaimana seseorang yang ‘hanya’ menjual bakso bisa memperbaiki kehidupannya sampai pada taraf itu?

Jawabannya sederhana saja. Si bapak tukang bakso itu menjalankan kehidupannya dengan hati-hati dan mengelola keuangannya dengan baik serta menyempatkan diri untuk menabung.

Kisah kesuksesan ‘wong cilik’ seperti bapak tukang bakso itu sebenarnya bukanlah kisah yang asing. Masih ada kisah sukses bapak penjual cendol di pasar, bapak penjual gorengan di sudut jalan, ibu penjual nasi keliling, dan lain-lainnya.

Baca juga  Hubungan kakak dan adik yang sebenarnya

Bagaimana dengan kita yang sebenarnya secara sosial berada di jenjang yang lebih tinggi? Apakah kita sudah memikirkan bagaimana caranya agar kita bisa melakukan aksi memperbaiki keturunan?

Setidaknya, sudahkah kita memikirkan bagaimana memperbaiki kehidupan kita sendiri sehingga pada gilirannya nanti generasi penerus kita bisa memiliki tingkat kehidupan yang lebih baik?

Berbicara tentang memperbaiki tingkat kehidupan bukan berarti hanya dari sisi material saja; namun yang lebih penting, sisi batiniah.

Semoga bermanfaat dan jangan lupa bagikan

Previous
Next

Tinggalkan Balasan