Skip to Content

Kisah kekuatan untuk mengubah impian menjadi kenyataan

Kisah kekuatan untuk mengubah impian menjadi kenyataan

Be First!
by Juli 23, 2017 Kisah inspirasi

Setiap orang berhak memiliki mimpi; dan seperti Yunang, setiap orang harus berani mencoba mewujudkan mimpinya agar menjadi kenyataan.

Pemuda itu bernama Yunanto. Orang-orang biasa memanggilnya dengan nama Yunang atau Yanto. Saya sendiri lebih senang memanggilnya “Yunang”.

Yunang seorang pemuda desa dari Tuban. Pendidikannya tidak tinggi, paling-paling lulusan SMP; atau malah mungkin tidak tamat SMP. Namun demikian, Yunang punya mimpi-mimpi.

Mula-mula ia bermimpi bisa membawa gadis yang membuatnya jatuh cinta ke pelaminan. Pada awalnya si gadis menolak, namun akhirnya karena satu dan lain hal, Yunang berhasil. ‘Mestakung’ (semesta mendukung), dan si gadis pun menjadi istrinya. Kini mereka memiliki dua orang anak.

Sebelum menikah, Yunang bekerja sebagai buruh di sebuah industri rumahan yang memproduksi aneka tas dari kulit imitasi. Setelah menikah, Yunang direkrut pamannya yang menjadi mandor di proyek-proyek bangunan. Tugasnya adalah mengebor tanah yang akan dipasangi kolom-kolom pondasi. Tentu saja penghasilannya lebih tinggi daripada ketika ia menjadi buruh di industri tas.

Rupanya Yunang merasa cocok dengan pekerjaan ini.

Pada suatu sore, Yunang datang ke rumah saya. Kami duduk di kursi plastik putih di teras rumah. Setelah berbasa-basi menanyakan kabar saya dan saya pun menanyakan kabar istrinya yang dahulu pernah menjadi pembantu rumah tangga kesayangan di rumah saya, Yunang pun menceritakan maksud kedatangannya.

“Bu, gimana ya cara memasarkan jasa lewat internet?”

Saya terkejut mendengar pertanyaannya, tapi berusaha untuk tidak menampakkannya; saya malahan bertanya lebih lanjut. “Maksudmu, kamu mau memasarkan apa?”

“Saya mau memasarkan keahlian saya.”

“Keahlian apa?”

“Saya kan bisa ngebor tanah, Bu. Saya pengen memasarkan keahlian itu. Saya berkaca dari pengalaman teman saya di Kalimantan. Dia memasarkan keahliannya lewat internet. Dan berhasil. Saya juga ingin berhasil.”

Baca juga  Keberhasilan memperbaiki keturunan dan taraf kehidupan

Saya terdiam sejenak, sibuk mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan bahwa memasarkan sesuatu lewat internet itu gampang-gampang susah. Mula-mula harus ada komputer dan jaringan internet serta sedikit pengetahuan mengenai dunia maya. Buat Yunang, semua itu masih jauh panggang dari api. Ia tinggal di kos-kosan, untuk menggunakan rice cooker yang saya berikan kepada istrinya pun tak mungkin, karena listrik di kos-kosan tak cukup.

Setelah menjelaskan secara sederhana cara pemasaran online, yang bahkan pada saat itu belum terlalu populer juga, saya pun berkata kepadanya, “Nang, sebetulnya bagus loh keinginanmu untuk maju itu. Tapi kalau lewat internet rasanya ribet, deh. Coba pikirkan, apa lagi keinginanmu yang lain agar kamu bisa lebih berhasil dari sekarang.”

Akhirnya, setelah berbincang-bincang tentang beberapa topik lain, Yunang pun berpamitan.

[Image: aliceandlois.com]

Hampir setahun berlalu.

Pada suatu hari saya bertemu dengan istri Yunang, Winarti. Winarti bercerita bahwa Yunang berencana keluar dari asuhan pamannya. Ia mau beralih profesi: jualan bakso.

“Ibu tahu, toh … saya dulu menolak Ali karena saya ndak mau diajak jualan bakso. Lah, kok sekarang Yunang pengen jualan bakso.” Si Winarti ‘complain’.

“Kamu memangnya kenapa kok ndak setuju?”

“Ya, pokoknya saya malu aja kalo dia jualan bakso.”

“Terus?”

“Ya, dia mempeng ae, Bu. Dia bilang, ga masalah kalau saya ndak setuju. Dia ndak bakalan ngrepoti saya. Dia akan nyiapin semuanya sendiri. Masak pentol nya juga dia ndak akan minta tolong saya. Sekarang aja dia sudah mulai persiapan. Dia nyicil-nyicil bikin gerobaknya sendiri. Maku-maku ini-itu. Belanja panci-panci dan sendok sayur.”

“Terus?”

“Ya, udah. Ta’ biarin dia ngerjain sendiri. Saya ndak mau bantu.”

Baca juga  Apa yang didapat dan mengapa harus karyawan tetap

“Memang kenapa dia kok mau jualan bakso?”

“Katanya dia pengen kerja sendiri. Ndak mau ikut pamannya terus. Dia mau mandiri.”

Wow! Mimpi Yunang yang lain lagi!

Dan kali ini, menurut saya, mimpi Yunang ini masuk akal. Mimpi ini memenuhi kriteria SMART: Simple, Measurable, Attainable, Reasonable, Tangible (Sederhana, terukur, dapat dicapai, masuk akal dan nyata). Saya pun berkata kepada Winarti, “Wis, Win … biarin aja. Biarin dia nyoba. Kalau ntar ndak jalan, ya nanti dipikir lagi.”

Hampir tiga tahun berlalu. Sampai hari ini Yunang masih tetap berjualan bakso. Sepeda motornya ‘beranak’, dari satu menjadi dua. Anaknya juga, dari satu menjadi dua; dan walaupun mereka masih belum pindah dari kos-kosan yang sempit itu, Yunang bisa memberi makan kedua anaknya dengan cukup. Dia sendiri tampak lebih percaya diri dan istrinya pun kini bersedia membantu dia memasak bakso.

Saya senang Yunang berani bermimpi. Setiap orang berhak memiliki mimpi; dan seperti Yunang, setiap orang harus berani mencoba mewujudkan mimpinya agar menjadi kenyataan.

Semoga kisah ini bisa menjadi inspirasi buat kita semua untuk menjadi hiup lebih baik.

Semoga bermanfaat dan jangan lupa bagikan

Baca Lainya

Baca juga  Penyebab orang kaya harta tapi tidak bahagia lahir dan batin
Previous
Next

Tinggalkan Balasan